Pemandu Perjalanan

Hidup kita adalah sebuah perjalanan yang membawa kita ke puncak keberhasilan dan juga di lembah keputus-asaan. Jika belum pernah alami keduanya, akan sulit bagi kita untuk menghargai segala sesuatunya dengan baik. Tuhan Allah telah memberikan kepada kita sahabat untuk menemani di sepanjang perjalanan hidup ini. Kita bisa 'berbagi hati' di saat kemenangan dan juga disaat alami kekalahan. Dan Yesus Kristus adalah 'sahabat sejati', pemandu perjalanan menuju ke tujuan yang terakhir. Dia membuat kita layak melangkah di sepanjang perjalanan yg megah ini.

Minggu, 25 Juli 2010

Menggunakan Wibawa Tuhan Yesus

Menggunakan wibawa dari Roh Kudus untuk mengatasi dosa dan kelemahan

Seringkali kita tetap terbelenggu karena kita mengira bahwa Tuhan tak mau membebaskan kita. Kita tak boleh secara pasif menerima masalah, tetapi kita harus menyatakan kemenangan Yesus atas daging dgn tegas dan seringkali dalam kata-kata yang diungkapkan.

Bila kita menggunakan wibawa Tuhan Yesus, kita menerapkan Kabar Baik dalam hidup kita, yaitu bahwa Yesus sudah mengatasi daging melalui kematian dan kebangkitan-Nya dan bahwa Roh Kudus tinggal di dalm hati kita serta memberi kita kuasa untuk hidup bebas dari dosa.

Banyak masalah pribadi akan diatasi dengan cepat bila kita menggunakan wibawa Bapa kita dalam berdoa: "Aku adalah ciptaan baru, bait Roh Kudus. Aku tidak mau lagi merasa khawatir atas masalahku. Yesus sudah memberikan kepadaku wibawa untuk mengatasimu, hai rasa khawatir."


Seperti halnya dengan bersukacita dalam segala keadaan, pernyataan untuk bebas dari dosa mengungkapkan dan membangkitkan iman. Iman yang lebih besar ini mengakibatkan Allah bekerja lebih kuasa. (Holytrinitycarmel)

Tuhan Yesus Memberkati.

Keselamatan

"Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." (Roma 10:8)

Doa bagi Keselamatan:
Tuhan Yesus, aku tahu bahwa aku telah berdoa dan tak dapat menyelamatkan diriku sendiri. Ampunilah aku Tuhan, aku percaya Engkau telah mati di salib bagi dosa-dosaku. Puji syukur dan pujian terimakasihku untuk hal itu. Aku percaya bahwa Engkau telah bangkit dari kematian dan bahwa Engkau hidup selamanya. Aku benar-benar ingin agar Engkau masuk ke dalam hidupku.
Sekarang aku membuka pintu hidupku dan meminta agar Engkau datang dan hidup di dalamku. Aku menerima Engkau sekarang, Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamatku.

Puji syukur dan pujian terimakasih karena Engkau telah mendengarkan seruanku. Tolonglah agar aku dapat hidup bagi-Mu.Jadikan aku sebagaimana yang Engkau kehendaki. Amin


"Sebab, jika dengan mulut Saudara mengaku, bahwa Yesus Kristus itu Tuhan Saudara, dan dalam hati Saudara percaya, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka Saudara akan diselamatkan." (Roma 10:9 FAYH)

Tuhan Yesus Memberkati.

Selasa, 20 Juli 2010

Makna Dibalik Pekerjaan

Suatu hari, James Gwee, motivator kenamaan menceritakan pengalamannya ketika memberikan kursus mengenai sikap kerja di sebuah hotel berbintang lima di Singapura.

''Salah satu peserta kursus adalah Pak Lim, seorang lelaki berusia 60 tahun yang bekerja di hotel tersebut. Bagi saya, pekerjaan sehari-hari Pak Lim sangatlah membosankan. Setiap hari, dengan membawa sebuah alat, dia memeriksa engsel pintu setiap kamar hotel. Pak Lim memulai rangkaian tugasnya dengan memeriksa engsel pintu-pintu kamar hotel dan memastikan bahwa setiap engsel dan fungsi kunci pintu berfungsi dengan baik.

Pemeriksaan yang dilakukannya bukanlah pemeriksaan ''seadanya.'' Namun pemeriksaan yang amat teliti dan memastikan bahwa setiap pintu boleh dibuka tutup tanpa masalah.

Untuk pemeriksaan satu pintu saja, Pak Lim berulang kali membuka dan menutup pintu tersebut hanya untuk memastikan bahwa semuanya berfungsi dengan baik. Barulah setelah puas, dia memeriksa pintu kamar berikutnya. Kembali dia melakukan hal yang sama dan begitu seterusnya. Dalam sehari Pak Lim dapat memeriksa 30 pintu kamar. Kita mungkin berpikir, berapa hari yang diperlukan oleh Pak Lim untuk memeriksa pintu semua kamar hotel itu? Kurang lebih sebulan! Tidak mengejutkan, karena hotel berbintang lima itu memiliki sekitar 600 kamar.

Tugas pemeriksaan Pak Lim, diibaratkan sebagai sebuah bulatan. Setelah pintu kamar terakhir selesai diperiksa, Pak Lim akan kembali lagi ke kamar pertama, kamar 1001 dan terus melanjutkan hingga kamar 1600. Rangkaian tugas ini terus berjalan sepanjang tahun. Pekerjaan semacam ini jelas merupakan pekerjaan monoton, tanpa variasi dan membosankan! Namun bagaimana tanggapan Pak Lim tentang pekerjaannya?

Dia mengatakan, ''Pekerjaan saya bukan sekedar memeriksa engsel pintu, tetapi lebih dari itu, yaitu memastikan keselamatan setiap penghuni kamar. Kalau sesuatu yang buruk terjadi di hotel ini, misalnya saja kebakaran, lalu pintu tidak dapat dibuka karena engselnya rusak, mereka bisa meninggal di dalam kamar. Sekarang anda mungkin dapat memahami bahwa tugas saya bukan sekadar memeriksa engsel, tapi menyelamatkan orang-orang. Jadi jangan meremehkan pekerjaan saya.''

Jadi, carilah tahu apa makna dibalik pekerjaan kita, supaya kita dapat bekerja dengan rasa bangga, dan yang terpenting, kita akan membuat pekerjaan kita penuh arti, bagi diri kita, bagi keluarga kita dan bagi perusahaan kita.

''Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan, penghasilan orang fasik membawa kepada dosa.'' (Amsal 10:16)

Tuhan Yesus Memberkati

Jumat, 16 Juli 2010

Kesetiaan Itu Perlu

"Karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku." (I Timotius 1:2)

Max Lucado, seorang penulis buku rohani yang terkenal, suatu saat belajar mengenal kesetiaan ketika melihat apa yang dilakukan oleh ibunya saat ayahnya sakit yang melumpuhkan satu-persatu otot tubuhnya. Ibunya merawat ayahnya seperti merawat bayi dengan memandikan, menyuapi, memakaikan pakaian sampai suaminya dipanggil Tuhan. Tidak pernah sekalipun terdengar ibunya mengeluh atau memasang tampang cemberut. Max melihat sosok yang memegang teguh janji setia, seperti yang diucapkan di altar saat pernikahan dan ibunya melakukan semuanya sebagai bukti kasih kepada suaminya.

Kesetiaan adalah sangat penting dihadapan Allah. Tanpa kesetiaan yang penuh kita tidak akan bisa mengikut Allah sampai akhir. Lebih mudah untuk setia ketika semuanya terasa mudah dan tidak ada tantangan sama sekali. Tetapi kesetiaan sangat dibutuhkan ketika kondisi sulit dan tidak seperti yang dibayangkan. Lebih mudah setia kepada Tuhan ketika diberkati melimpah daripada saat Tuhan menguji hidup kita.

Sebagaimana layaknya mempelai laki-laki, Tuhan Yesus menginginkan kesetiaan dari kita, sebagai mempelai wanitaNya. Dalam segala kondisi, susah maupun senang, suka maupun duka, pencobaab atau kemenangan, sakit maupun sehat, Dia merindukan kesetiaan kita, karena Dia sudah terlebih dahulu menunjukkan kesetiaanNya kepada kita.

Bagaimana dengan komitmen dan kesetiaan kita kepada Allah hari ini dibandingkan saat pertama kali kita mengenal Dia? Biarlah pernyataan yang sama kita dapatkan dari Allah di dalam hidup kita, yaitu Allah menganggap kita setia, dengan kasih karunia Allah.

Tuhan Yesus Memberkati.

Rabu, 14 Juli 2010

Jalan Menuju Sukses

Seorang eksekutif muda bertemu dengan seorang guru di sebuah jalan raya. Ia bertanya, ''Guru, yang manakah jalan menuju sukses?''
Sang guru terdiam sejenak. tanpa mengucapkan sepatah kata, sang guru menunjuk ke arah sebuah jalan. Eksekutif muda itu segera berlari menyusuri jalan yang ditunjukkan oleh sang guru. Ia tak mau membuang-buang waktu lagi untuk meraih kesuksesan. Setelah beberapa saat melangkah tiba-tiba ia berseru, ''Ha..! Ini jalan buntu!''

Rupanya benar, dihadapannya berdiri sebuah tembok besar yang menutupi jalan. Kini ia terpaku kebingungan, ''Barangkali aku salah mengerti maksud sang guru.'' Demikian pikir si eksekutif muda sambil berbalik menemui sang guru untuk menanyakan sekali lagi, ''Guru, yang manakah jalan menuju sukses'' Namun ternyata, sang guru tetap menunjuk ke arah yang sama.

Eksekutif muda itu berjalan kearah itu lagi. Namun yang ditemuinya tetap saja sebuah tembok yang menutupi jalan. Ia merasa dipermainkan.

Dengan penuh amarah ia menemui sang guru, ''Guru, aku sudah menuruti petunjukmu, tetapi yang aku temui selalu sebuah jalan buntu. Aku tanyakan sekali lagi padamu, yang manakah jalan menuju sukses? Kau jangan hanya menunjukkan jari saja, tetapi bicaralah!''

Akhirnya sang guru berbicara, ''Disitulah jalan menunju sukses. Hanya beberapa langkah saja di balik tembok itu.''

Seringkali keberhasilan memang tidak nampak karena ia bersembunyi di balik tembok kesulitan. Hanya orang-orang yang mampu mendaki ''tembok kesulitan'' itulah yang akan menemui keberhasilan. Jadi jangan pernah menyerah disaat kita menghadapi tembok kesulitan, karena dibalik itu tersedia keberhasilan dan kesuksesan bagi kita semua.

''Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barang siapa yang mengasihi Dia.'' (Yakobus 1:12)

Tuhan Yesus Memberkati

Jumat, 09 Juli 2010

Ketahuilah Tugas & Panggilan Kita

Seorang bos sangat frustasi pada sekretaris barunya, karena sekretarisnya itu selalu mengabaikan bunyi telepon yang berdering.

Sekretaris baru itu segera dipanggil ke dalam ruangan si bos, dan dengan marahnya si bos berkata, ''Kamu harus manjawab telepon itu,'' Namun si bos sungguh terkejut mendengar jawaban dari sekretaris barunya itu, ''Baiklah,'' Jawab si sekretaris, ''Tapi itu adalah pekerjaan yang sia-sia Pak, 9 dari 10 telepon yang masuk bukan untuk saya, tetapi untuk Bapak.''

Kisah tadi memang agak sedikit konyol, hanya karena tidak mengetahui tugas dan fungsinya sebagai sekretaris, si bos akhirnya dirugikan dan sekretaris itu tidak dapat menjalankan pekerjaannya dengan baik.
Bukankah ada begitu banyak kekonyolan yang juga terjadi dalam kehidupan ini, hanya karena kita tidak mengetahui atau belum mengetahui tugas dan panggilan hidup kita?

Ada begitu banyak orang yang bekerja hanya sekedar bekerja, tanpa mengetahui dengan sungguh-sungguh tugas dan fungsinya dalam organisasi tempat dia bekerja.
Yang lebih penting lagi adalah, sudahkah kita mengetahui tugas dan panggilan kita dalam kehidupan di dunia ini? Tuhan telah mengaruniakan kepada masing-masaing kita, karunia yang khusus dan berbeda satu sama lainnya. Setiap kita adalah unik, dan setiap dari kita mempunyai kemampuan yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. Tugas kita adalah mencari tahu dan menggali potensi yang terpendam itu, agar kita dapat mengetahuinya dan menggunakannya sesuai dengan fungsi kita dalam tubuh Kristus.

Mari jangan hanya sekedar hidup dan bekerja sekedarnya di dunia ini, namun mari mencari tahu kelebihan dan kemampuan kita, agar kita dapat mengetahui tugas dan fungsi kita yang sebenarnya dalam kehidupan di dunia ini dan di dalam tubuh Kristus, sehingga Tuhan tidak akan dirugikan, melainkan melalui keberadaan kita, melalui apa yang kita lakukan dan kita kerjakan, nama Tuhan justru dipermuliakan.

''Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama.'' (Roma 12:4)

Tuhan Yesus Memberkati

Kamis, 08 Juli 2010

Pohon Yang Besar Atau Bonsai?

Orang Jepang memelihara pohon yang lazim disebut bonsai. Pohon ini indah dan dibentuk sempurna walaupun tingginya hanya sekian sentimeter. Di California, ada pohon raksasa hutan bernama sequoia. Salah satu pohon raksasa ini diberi nama Jenderal Sherman. Lingkar batangnya 26 meter dan tingginya mencapai 90 meter, seakan menembus langit.

Pohon raksasa ini begitu hebat sehingga jika ditebang akan menghasilkan kayu bangunan yang cukup untuk membuat 35 buah rumah dengan lima kamar. Pada saat berbentuk biji, bonsai dan pohon Jenderal Sherman sama-sama kecil. Masing-masing beratnya kurang dari satu milligram. Setelah dewasa, ukuran keduanya luar biasa berbeda. Mengapa bisa demikian? Ketika pohon bonsai mulai menyembulkan tunasnya di muka bumi, orang Jepang mencabutnya dari tanah dan mengikat pokok akar dan sebagian cabang akarnya. Pertumbuhan pohon ini sengaja dihambat. Hasilnya memang indah, tetapi mini ukurannya. Sedangkan biji dari pohon Jenderal Shermon jatuh ke tanah California yang subur dan mendapat gizi dari mineral, air hujan, dan sinar matahari, karena terus tertanam dan tidak ada yang mencabutnya dari dalam tanah. Hasilnya adalah sebuah pohon raksasa. Baik pohon bonsai maupun pohon Jenderal Shermon awalnya adalah dari benih yang ukurannya sama kecilnya, namun hanya karena yang satu tidak tertanam dan yang satunya lagi tertanam telah menghasilkan perbedaan yang sangat luar biasa.

Yang menjadi pertanyaan bagi kita semua adalah, sudahkah benih kehidupan rohani kita juga tertanam dalam sebuah gereja lokal? Atau apakah kita membiarkan orang lain, atau iblis mencabutnya dari gereja lokal dan membuat kita berpindah-pindah dari satu gereja ke gereja yang lainnya? Baik pohon bonsai maupun pohon Jenderal Sherman tidak punya pilihan dalam menentukan nasibnya. Namun tidak demikian halnya dengan kita. Kita punya hak untuk menentukan apakah kehidupan rohani kita akan menjadi besar, kokoh dan kuat, atau apakah kehidupan rohani yang mini, yang hanya tampak cantik dari luar, namun tidak mempunyai akar yang kokoh dan kuat? Pilihan ada di tangan kita. Mari memilih untuk mempunyai kehidupan rohani yang besar, kokoh dan kuat, dengan cara tertanam di salah satu gereja lokal.

''Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.'' (Kolose 2:7)

Tuhan Yesus Memberkat.

Jumat, 02 Juli 2010

Pilihan Untuk Bangkit

''JIka engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.'' (Amsal 24:10)

Bukan suatu hal yang asing lagi di telinga kita jika kita mendengar perkataan ini: ''Hidup adalah pilihan.'' Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan perkataan ini. Di satu sisi, memang benar bahwa dalam hidup ini kita dihadapkan dengan pilihan-pilihan sehingga kita harus memutuskan untuk memilih dari sekian banyaknya pilihan itu. Namun, di sisi lain, tidak seorangpun yang ingin memilih untuk yang satu ini: ''kegagalan." Kebanyakan orang akan berusaha sebisanya agar tidak mengalami kegagalan dalam hidupnya. Apa boleh buat, masalah datang dalam hidup kita tanpa diundang dan harapkan. Mau tidak mau, kita pasti pernah mengalami kegagalan, padahal kita tidak memilihnya.

Hidup tidak berhenti pada titik kegagalan yang kita alami. Kita tetap bisa belajar dari pengalaman buruk sekalipun agar tidak jatuh pada kesalahan yang sama. Amsal 24:10 mengatakan: ''Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.''
Kegagalan merupakan salah satu hal yang sangat bisa menyesakkan hati sehingga orang bisa menjadi tawar hati. Dengan kata lain, kesesakan bisa menjadikan orang putus asa. Firman Tuhan tadi menegaskan bahwa keputusasaan di saat kita mengalami kesesakan menunjukkan kecilnya kekuatan kita.

Allah tidak ingin umat-Nya menjadi putus asa karena Allah sendiri adalah Pribadi yang tangguh dan kuat. Jadi, kita sebagai umat-Nya pun harus tangguh dan kuat seperti Dia. Sesungguhnya, kegagalan baru benar-benar terjadi pada kita apabila kita berhenti mencoba dan berusaha. Lebih baik berpikir bahwa kita belum berhasil daripada mengatakan bahwa kita gagal.

Mungkin kita sedang merasa diri kita gagal. Terus berharap pada Allah dengan selalu berusaha melaukuan yang terbaik. Ketahuilah bahwa kita bukan satu-satunya orang yang pernah mengalami kegagalan dalam hidup. Mereka yang kita kenal sukses hari ini pun sudah melewati itu sebelumnya. Jadikan semuanya itu proses untuk mempersiapkan diri kita menuju kesuksesan sejati.

Tidak ada yang memilih gagal, tapi kita selalu bisa memilih untuk bangkit dari kegagalan

Tuhan Yesus Memberkati